Selasa, 01 Januari 2013

MEMAHAMI PERILAKU MANUSIA LEWAT FILSAFAT ILMU




UPAYA SAYA MEMAHAMI PERILAKU MANUSIA LEWAT FILSAFAT ILMU

Science, seperti aktivitas manusia lainnya, merupakan sebuah respon terhadap kebutuhan untuk memahami atau mengerti dunia.  Dan tentu saja hal ini membutuhkan penjelasan yang objektif tentang fenomena atau gejala yang terjadi di kehidupan manusia sehari-hari maupun dalam rangka menjelaskan dunia.

Banyak pertanyaan tentang bagaimana seharusnya science bekerja, perbandingan antara natural science atau hard science seperti matematika dan fisika dengan social science seperti psikologi, sosiologi, ekonomi.  Seperti bagaimana teori itu harus mendeskirpsikan fakta yang objektif, dan bagaimana penjelasannya itu harus bisa di uji dan di verifikasi secara objektif.  Hal ini yang menyebabkan perlu adanya hukum atau law dalam science, dan inilah yang saya pahami sebagai nomological karena nomological berasal dari bahasa Yunani kuno nomos yang berarti law atau hukum.

Nomological dalam hard science tentu bisa dicapai namun hal ini justru akan sulit diterapkan dalam social science terutama psikologi, dan inilah yang menjadi masalah yaitu bagaimana membuat hukum atau nomological explanation dalam social science seperti psikologi.  Dan inilah yang saya pahami sebagai awal perdebatan dari dua kutub berbeda dalam menjelaskan fenomena yaitu naturalism versus interpretation atau dengan bahasa lain mencari understanding (verstehen) yang kontras dengan nomological explanation (erklaren).

Menghadapi perdebatan antara natural versus interpretasi ini membuat beberapa ilmuwan kembali pada sisi pragmatis yaitu penjelasan ilmiah yang penting mengarahkan ilmu pengetahuan pada penemuan (discovery) dan penciptaan (invention).  
Namun hal ini ternyata memicu perdebatan baru karena apa yang disebut penemuan dan apa yang disebut penciptaan itu masih belum jelas karena terutama adanya keyakinan bahwa penjelasan yang bagus itu seharusnya memiliki kekuatan prediksi terhadap masa depan, universal dan bisa di generaliasi.

Terhadap kebingungan ini saya kira wajar jika Rosenberg (2007) menyatakan bahwa bagi masyarakat awam terutama berkaitan dengan social science, penjelasan yang bagus adalah yang paling masuk akal (intelligible).  Karena pada dasarnya manusia itu bisa survive karena making sense of the world sehingga penjelasan dalam social science memang lebih mudah diterima jika menggunakan common sense, dan hal ini lah yang disebut dengan Folk Psychology

Folk psychology ini pada akhirnya menjadi cara manusia untuk menjelaskan fenomena sosial disekitar mereka.  Hal ini menarik karena upaya penjelasan manusia ini masih menimbulkan dualisme lagi terhadap penjelasan, yaitu dengan adanya reason dan cause.  Apa yang menjadi penyebab seseorang berperilaku dan bagaimana menjelaskan dan membuat penjelasan dari penyebab itu masuk akal.

Yang saya pelajari pula adalah bagaimana perkembangan science dibedah melalui pendekatan paradigma dari Kuhn.  Disaat banyak orang yang sudah begitu nyaman dengan science Popper yang harus progresif dan prediktif, tiba-tiba datang Kuhn dengan pernyataan bahwa science itu ternyata tidak bergerak maju atau progresif namun hanya berubah saja paradigmanya (shifting paradigm).

Dari Kuhn saya belajar 3 hal penting bahwa pertama, Kuhn mendorong seseorang terutama ilmuwan untuk memeiliki kekuatan argumentasi sehingga tidak hanya sekedar ikut-ikutan (conform) tapi betul-betul yakin dan certain dengan pilihan paradigma-nya dan dapat menjelaskan dengan argumen yang kuat.

 Kedua, kuhn membuat seseorang memilih sudutpandang (paradigm) dan secara otomatis pula ketika seseorang telah memilih paradigma-nya maka orang tersebut akan memlih metodologisnya, atau Kuhn mengistilahkan dengan "paradigma memiliki konsekuensi metodologis".  Dan pada akhirnya ; ketiga, pendekatan paradigma membuat seseorang menjadi lepas dari fanatisme karena ada banyak paradigma lain yang tentu bertentangan dengan apa yang kita pegang.

Saya analogikan bahwa saya adalah seorang muslim dengan paradigma Islam.  Dengan tiga poin yang saya dapat tadi, Kuhn meminta argumen saya mengapa saya masuk Islam, dan tentunya argumen saya haruslah kuat.  Bukan sekedar karena dilahirkan oleh orangtua yang juga Islam tapi karena memang saya meyakini secara matang (istilah Kuhn itu normal science) dan dengan pilihan tersebut akan ada konsekuensi metodologis dari pilihan saya tersebut.  Apa konsekuensi metodologisnya? Bahwa perilaku saya dan penjelasan saya tentang haruslah berdasarkan tuntunan Islam dengan segala ritual wajibnya.

Dan dengan menjadi Islam bukan berarti bahwa saya mesti fanatik dengan ke-Islaman saya, karena dalam pilihan menjadi seorang Muslim ada paradigma lain seperti kristen, budha, hindu, yang harus saya hormati keberadaannya.  Dengan tetap tentunya yakin dengan keyakinan yang matang dan mantap bahwa Islam adalah pilihan terbaik bagi saya.  Kuhn menawarkan pilihan paradigma serupa dalam konteks perkembangan science,  Terutama science sosial.

Social science secara sederhana bertujuan memahami tindakan manusia baik itu yang sedang terjadi dan apa yang kira-kira akan terjadi, hal ini berdampak pada upaya untuk memprediksi kecenderungan apa yang akan dilakukan seseorang yang pastinya tidak mudah.  Akan tetapi yang jelas adalah bahwa science sosial berhubungan dengan apa yang oleh Rosenberg sebut sebagai action bukan hanya perilaku biasa (mere behavior).  Action manusia ini yang kemudian dijelaskan dalam beberapa cara, salah satunya adalah mengungkap belief dan desire/wants manusia.

Contoh yang menurut saya menarik dalam buku Rosenberg adalah ketika berusaha untuk mencari penjelasan terhadap seseorang yang tiap harinya jogging hingga 10km dengan memberi pertanyaan “mengapa anda jogging 10km tiap hari?”.  Orang tersebut menjawab “hal ini baik untukku”.  Jawaban ini mengandung tiga arti, yang pertama; jogging bukan hanya baik baginya, bahkan dia memiliki keyakinan (belief) bahwa jogging ini memang baik baginya; kedua, dia ingin (wants/desire) melakukan hal yang baik buat dirinya;  dan ketiga, jogging tidak akan mencegah dia untuk melakukan hal yang baik lainnya.  Dalam hal ini, maka didapat penjelasan yang rasional dan jelas (intelligible) mengenai action jogging sejauh 10Km yang dilakukannya tiap hari.  Jika saya membayangkan saya berada dalam posisi orang tersebut, mungkin saya juga akan melakukan action sayang sama, yaitu jogging tiap hari sejauh 10Km.

Yang menjadi menarik bagi saya adalah alasan seseorang untuk melakukan sebuah action ini ternyata tetap bukanlah penyebab (cause) seseorang  melakukan hal tersebut.  Karena cara kerja alasan (reason) berbeda dengan sebab (cause).  Saya sepakat dengan hal ini dan mungkin itu pula alasan (reason bukan cause) Weber bersikeras bahwa penjelasan terhadap social science harus mendekati penjelasan yang dilakukan di natural science.

Pada akhirnya pilihan mana yang akan saya pilih sebagai seorang yang mengaku dan bercita-cita untuk menjadi seseorang ilmuan dalam social science yang tentunya akan berimbas pada konsekuensi metodologis yang harus saya pilih.  Dan ternyata bukan hanya itu, konsekuensi filosofis dan juga kerangka berpikir saya lah yang harus memulai perjalanannya dalam upaya memahami manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar