UPAYA SAYA
MEMAHAMI PERILAKU MANUSIA LEWAT FILSAFAT ILMU
Science,
seperti aktivitas manusia lainnya, merupakan sebuah respon terhadap kebutuhan
untuk memahami atau mengerti dunia. Dan tentu saja hal ini membutuhkan
penjelasan yang objektif tentang fenomena atau gejala yang terjadi di kehidupan
manusia sehari-hari maupun dalam rangka menjelaskan dunia.
Banyak pertanyaan tentang bagaimana
seharusnya science bekerja, perbandingan antara natural science
atau hard science seperti matematika dan fisika dengan social
science seperti psikologi, sosiologi, ekonomi. Seperti bagaimana
teori itu harus mendeskirpsikan fakta yang objektif, dan bagaimana
penjelasannya itu harus bisa di uji dan di verifikasi secara objektif.
Hal ini yang menyebabkan perlu adanya hukum atau law dalam science,
dan inilah yang saya pahami sebagai nomological karena nomological
berasal dari bahasa Yunani kuno nomos yang berarti law atau
hukum.
Nomological dalam hard science tentu bisa dicapai namun hal
ini justru akan sulit diterapkan dalam social science terutama
psikologi, dan inilah yang menjadi masalah yaitu bagaimana membuat hukum atau nomological
explanation dalam social science seperti psikologi. Dan inilah
yang saya pahami sebagai awal perdebatan dari dua kutub berbeda dalam
menjelaskan fenomena yaitu naturalism versus interpretation atau dengan
bahasa lain mencari understanding (verstehen) yang kontras dengan
nomological explanation (erklaren).
Menghadapi perdebatan antara natural
versus interpretasi ini membuat beberapa ilmuwan kembali pada sisi pragmatis
yaitu penjelasan ilmiah yang penting mengarahkan ilmu pengetahuan pada penemuan
(discovery) dan penciptaan (invention).
Namun hal ini
ternyata memicu perdebatan baru karena apa yang disebut penemuan dan apa yang
disebut penciptaan itu masih belum jelas karena terutama adanya keyakinan bahwa
penjelasan yang bagus itu seharusnya memiliki kekuatan prediksi terhadap masa
depan, universal dan bisa di generaliasi.
Terhadap kebingungan ini saya kira
wajar jika Rosenberg (2007) menyatakan bahwa bagi masyarakat awam terutama
berkaitan dengan social science, penjelasan yang bagus adalah yang
paling masuk akal (intelligible). Karena pada dasarnya manusia itu
bisa survive karena making sense of the world sehingga penjelasan
dalam social science memang lebih mudah diterima jika menggunakan common
sense, dan hal ini lah yang disebut dengan Folk Psychology.
Folk psychology ini pada akhirnya menjadi cara manusia
untuk menjelaskan fenomena sosial disekitar mereka. Hal ini menarik
karena upaya penjelasan manusia ini masih menimbulkan dualisme lagi terhadap
penjelasan, yaitu dengan adanya reason dan cause. Apa yang
menjadi penyebab seseorang berperilaku dan bagaimana menjelaskan dan membuat
penjelasan dari penyebab itu masuk akal.
Yang saya pelajari pula adalah
bagaimana perkembangan science dibedah melalui pendekatan paradigma dari
Kuhn. Disaat banyak orang yang sudah begitu nyaman dengan science
Popper yang harus progresif dan prediktif, tiba-tiba datang Kuhn dengan
pernyataan bahwa science itu ternyata tidak bergerak maju atau progresif
namun hanya berubah saja paradigmanya (shifting paradigm).
Dari Kuhn saya belajar 3 hal penting
bahwa pertama, Kuhn mendorong seseorang terutama ilmuwan untuk memeiliki
kekuatan argumentasi sehingga tidak hanya sekedar ikut-ikutan (conform)
tapi betul-betul yakin dan certain dengan pilihan paradigma-nya dan
dapat menjelaskan dengan argumen yang kuat.
Kedua, kuhn membuat
seseorang memilih sudutpandang (paradigm) dan secara otomatis pula
ketika seseorang telah memilih paradigma-nya maka orang tersebut akan memlih
metodologisnya, atau Kuhn mengistilahkan dengan "paradigma memiliki
konsekuensi metodologis". Dan pada akhirnya ; ketiga,
pendekatan paradigma membuat seseorang menjadi lepas dari fanatisme karena ada
banyak paradigma lain yang tentu bertentangan dengan apa yang kita pegang.
Saya analogikan bahwa saya adalah
seorang muslim dengan paradigma Islam. Dengan tiga poin yang saya dapat
tadi, Kuhn meminta argumen saya mengapa saya masuk Islam, dan tentunya argumen
saya haruslah kuat. Bukan sekedar karena dilahirkan oleh orangtua yang
juga Islam tapi karena memang saya meyakini secara matang (istilah Kuhn itu normal
science) dan dengan pilihan tersebut akan ada konsekuensi metodologis dari
pilihan saya tersebut. Apa konsekuensi metodologisnya? Bahwa perilaku
saya dan penjelasan saya tentang haruslah berdasarkan tuntunan Islam dengan
segala ritual wajibnya.
Dan dengan menjadi Islam bukan berarti
bahwa saya mesti fanatik dengan ke-Islaman saya, karena dalam pilihan menjadi
seorang Muslim ada paradigma lain seperti kristen, budha, hindu, yang harus
saya hormati keberadaannya. Dengan tetap tentunya yakin dengan keyakinan
yang matang dan mantap bahwa Islam adalah pilihan terbaik bagi saya. Kuhn
menawarkan pilihan paradigma serupa dalam konteks perkembangan science,
Terutama science sosial.
Social science secara sederhana bertujuan memahami tindakan manusia
baik itu yang sedang terjadi dan apa yang kira-kira akan terjadi, hal ini
berdampak pada upaya untuk memprediksi kecenderungan apa yang akan dilakukan
seseorang yang pastinya tidak mudah. Akan tetapi yang jelas adalah bahwa science
sosial berhubungan dengan apa yang oleh Rosenberg sebut sebagai action
bukan hanya perilaku biasa (mere behavior). Action manusia
ini yang kemudian dijelaskan dalam beberapa cara, salah satunya adalah
mengungkap belief dan desire/wants manusia.
Contoh yang menurut saya menarik dalam
buku Rosenberg adalah ketika berusaha untuk mencari penjelasan terhadap
seseorang yang tiap harinya jogging hingga 10km dengan memberi
pertanyaan “mengapa anda jogging 10km tiap hari?”. Orang tersebut menjawab
“hal ini baik untukku”. Jawaban ini mengandung tiga arti, yang pertama;
jogging bukan hanya baik baginya, bahkan dia memiliki keyakinan (belief)
bahwa jogging ini memang baik baginya; kedua, dia ingin (wants/desire)
melakukan hal yang baik buat dirinya; dan ketiga, jogging
tidak akan mencegah dia untuk melakukan hal yang baik lainnya. Dalam hal
ini, maka didapat penjelasan yang rasional dan jelas (intelligible)
mengenai action jogging sejauh 10Km yang dilakukannya tiap hari.
Jika saya membayangkan saya berada dalam posisi orang tersebut, mungkin saya
juga akan melakukan action sayang sama, yaitu jogging tiap hari
sejauh 10Km.
Yang menjadi menarik bagi saya adalah
alasan seseorang untuk melakukan sebuah action ini ternyata tetap
bukanlah penyebab (cause) seseorang melakukan hal tersebut.
Karena cara kerja alasan (reason) berbeda dengan sebab (cause).
Saya sepakat dengan hal ini dan mungkin itu pula alasan (reason bukan cause)
Weber bersikeras bahwa penjelasan terhadap social science harus
mendekati penjelasan yang dilakukan di natural science.
Pada
akhirnya pilihan mana yang akan saya pilih sebagai seorang yang mengaku dan
bercita-cita untuk menjadi seseorang ilmuan dalam social science yang tentunya
akan berimbas pada konsekuensi metodologis yang harus saya pilih. Dan
ternyata bukan hanya itu, konsekuensi filosofis dan juga kerangka berpikir saya
lah yang harus memulai perjalanannya dalam upaya memahami manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar