Pembukaan
Assalamualaikum
wr.wb...
Hai...
Kami
dari jurusan Bimbingan dan Konseling Angkatan 2012 Universitas PGRI Banyuwangi
Ingin
tahu kisahnya....
Mari
kita saksikan videonya berikut ini.....
Peran
Masing-masing Anggota
1.
Danang Budiawan : - Konselor
2.
Dwi Anggara Putra : - Orang tua konseli
- Penulis naskah & Kameramen,
3.
Revty Dwi Winarto : - Pembuka
- Orang tua konseli
4.
Rifchatun Nikmah : - Teman Konseli
- Editor Skenario & Kameramen
5.
Siva Fauzia Hafidz : - Konseli
Naskah Konseling
o
Siva adalah anak
pertama, dia terlahir dari keluarga harmonis,
bapaknya
bekerja sebagai petani, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.
o
Dia adalah siswi SMA
negeri kelas XI IPA.
Seminggu
yang lalu, siva mendapatkan juara pertama melukis tingkat kabupaten.
Suasana
berubah ketika ibunya mengetahui nilai-nilai akademiknya yang menurun.
Ibu :
“
kamu ini gimana nak??? Nilai-nilaimu
kenapa jelek-jelek begini..
ibuk malu nak..
Siva :“ iya bu.. itu karena saya lebih suka dengan
melukis bu..
Ibu :
“
oh gitu ya...!!!!! ibu nggak suka ya
kalau kamu terus-terusan melukis.
Sekarang
tinggalkan melukismu!!!! Ibu mau kamu fokus ke pelajaran kamu saja !!! liat
tuh.. tetangga kita ada jadi dokter.. kalau kamu melukis, mau jadi apa kamu
!!!!
Siva :
“
iya bu... (menunduk, gelisah)
Bapak :
“
Assalamualaikum.. ada apa ini bu..??
Ibu :
“
ini lho anakmu, nilai-nilainya jelek..
mau jadi apa dia kalau terus-terusan
melukis...
(melempar hasil nilainya)
Bapak :
“
lho... lha yo ndak papa to bu.. kemarin juga dia dapat prestasi
bagus kog..
iya kan nak..
Siva :
“
iya pak (menunduk)
Ibu :
“
alah... pokoknya ibu nggak mau kalau
kamu tetap melukis !!! (keluar dari
ruangan)
Bapak :
“
yasudah nak... ndak papa kamu nggak usah
khawatir dengan ibumu.
Siva : iya pak..
o Karena
pikiran nya yang gelisah...
siva pun pergi ke rumah
temannya
untuk bercerita tentang
masalahnya
Siva :
“
Assalamualikum rif...
Rifa :
“
Waalaikumsalam... eh va.. sini va..
gimana kabarnya..?? wah... yang baru
juara.. kog
lemes gitu si..
Siva :“ iya
nih rif.. bingung banget aku.. (memegang kepala)
Rifa :
“
lho bingung kenapa ? juara kog
bingung...
Siva :
“
ini rif... ibuku menyuruhku untuk
berhenti melukis nih.. aku kan bingung..
Rifa :
“
oh gitu.. terus bapakmu gimana ?
Siva :
“
kalau bapak mah.. terserah dengan apa
yang aku pilih..
Rifa :
“
emang kamu lebih milih mana va ?
Siva :
“
iya melukislah....
Rifa :
“
gini aja dah va.. kalau kamu tetep
bingung.. kamu konsultasi aja ke
konselor..
Siva :
“
hah ?? emang bisa ?
Rifa :
“
ya bisa dong.. yang namanya konselor kan
profesional...
Siva :
“
oh gitu ya rif... ya.. baiklah.. tak
coba buat ke konselor... makasih ya rif..
Rifa :
“
iya va...
Siva :
“
aku tak pulang dulu ya rif.. makasih ya
sarannya..
Rifa :
“
iya va hati-hati..
o
Keesokannya di sekolah
siva menemui konselor pada saat jam istirahat
Siva :
“
assalamualaikum... (mengetuk pintu)
Konselor :
“
waalaikumsalam... oh siva.. silahkan
masuk nak.. (membuka pintu) mari
silahkan
duduk... (menunjukkan kursi)
Siva :
“
iya pak.. terimakasih (tersenyum)
Konselor :
“
bagaimana kabarnya siva ?
Siva :
“
alhamdulilah baik pak... (menunduk)
Konselor :
“
bapak dengar dari guru kesenian, kamu
kemarin juara 1 melukis tingkat
kabupaten ya?
Siva :
“
iya pak benar (bingung, menunduk,
memainkan tangan, gelisah)
Konselor :
“
wah...selamat ya va.. bapak ikut
bangga.. (memegang pundak)
Siva :
“
iya pak.. terimakasih.. (senyum paksa)
Konselor :
“
bapak perhatikan kamu gelisah va... benar
itu va?
Siva :
“
iya pak...(menunduk)
Konselor :
“
bagaimana kamu bisa merasa gelisah va..
padahal kamu baru saja juara 1
melukis tingkat
kabupaten? (menatap konseli)
Siva :
“
iya pak.. saya lomba melukis bisa juara1
tapi disisi lain ada banyak mata
pelajaran yang
nilainya kurang bagus pak..
Konselor :“ jadi
kamu merasa gelisah karena walaupun kamu juara 1 melukis tapi
banyak nilaimu
yang kurang bagus.?
Siva :
“
iya pak.. saya juga merasa kecewa dengan
nilai-nilai seperti itu.. saya
bingung
menghadapi orang tua saya
Konselor :
“
emm..begitu.. pelajaran apa saja yang
menurutmu kurang bagus va?
Siva :
“
ada banyak pak.. terutama pelajaran yang
berkaitan dengan ujian nasional
..seperti MIPA
Konselor :
“
kamu merasa kecewa dengan hasil nilai
yang menurutmu tidak
memuaskan?
Siva :“ iya
pak.. saya tidak mampu mengecewakan orang tua saya pak.. yang
sudah susah
payah menyekolahkan saya, kelak kalau saya sudah lulus saya harus jadi orang
sukses
Konselor :“ iya
bapak memahami perasaanmu va.. tapi apakah pelajaran yang di
ujikan pada UAN
bisa menentukan kesuksesan kamu kelak va?
Siva :
“
hmmm... (diam)
Konselor :
“
bagaimana menurutmu va?
Siva :
“
ya tidak si pak.. tapi itu kan
persyaratan agar bisa lulus ujian nasional
pak...
Konselor :
“
iya benar va.. tapi sekarang kelulusan
tidak sepenuhnya ditentukan dengan
hasil UAN tapi
ada pertimbangan lain.. terutama pihak sekolah yang berhak menentukan kelulusan
siswa buka pemerintah..
Siva :
“
oo begitu ya pak.. lalu saya harus
bagaimana pak?
Konselor :
“
menurut kamu va?
Siva :
“
ya saya berfikiran kalau saya harus
belajar lagi untuk memperbaiki nilai
saya
Konselor :
“
iya..itu usaha yang bagus va..
Siva :
“
tapi setiap hari saya hanya suka melukis
pak.. mungkin itu penyebab nilai
mata pelajaran
yang jadi jelek pak..
Konselor :
“
kalau menurut bapak, pertahankan
melukismu.. karena itu bakatmu..
Siva :
“
iya pak.. melukis sudah menjadi bagian
dari hidup saya..
Konselor :
“
apakah orang tuamu mendukung va?
Siva :
“
kalau bapak sangat mendukung, tapi
ibu... (menunduk, diam)
Konselor :
“
bagaimana dengan ibumu va..?
Siva :
“
ibu saya tidak begitu suka kalu saya
tetap melukis, yang ibu takutkan
kalau saya
melukis terus bisa-bisa saya tidak lulus pak.. kan nilai-nilai saya jelek-jelek
semua..
Konselor :
“
nada-nadanya kamu merasa takut jika kamu
mengecewakan orang tuamu,
terutama ibumu..
benar va?
Siva :
“
iya pak...
Konselor :
“
tapi kamu kemarin kan sudah membuat
sekolah dan kedua orang tuamu
bangga pada saat
kamu juara melukis.. ibu kamu juga past merasa bangga kan? Dengan hasil kerjamu
sendiri...
Siva :
“
ibu bangga pak.. apalagi bapak, beliau
sangat senang sekali..
Konselor :
“
maka dari itu pertahankan prestasi
melukis kamu va.. apalagi sekolah juga
menyediakan
peralatan yang lengkap..
Siva :
“
iya pak.. saya akan buktikan kepada
orang tua saya, walaupun saya lemah
di bidang
akademik, bukan berarti saya gagal, tapi saya bisa membuktikan kalau saya bisa
berprestasi di idang non akademik apalagi sudah bisa membawa nama sekolah,
walaupun cumatingkat kabupaten. Menurut saya itu sudah menjadi prestasi yang
membanggakan pak..
Konselor :
“
iya va.. bapak juga bangga dengan kamu..
lalu apa yang ingin kamu
lakukan
berikutnya va?
Siva :
“
saya akan menjelaskan kepada kedua orang
tua saya pak.. kan bapak tadi
sudah
memberitahu saya kalau sekaran kelulusan bukan sepenuhnya ditentukan dengan UAN
tapi sekolahlah yang berhak meluluskan.. tapi bukan berarti saya harus
melupakan dan tidak mempelajari mata pelajaran yang akan diujikan.. saya juga
harus belajar lagi dan tidak meninggalkan melukis saya yang telah saya gemari
sejak dulu
Konselor :
“
baik va.. bapak sangat mendukung dengan
apa yang telah siva lakukan
dan pemikiran
siva saat ini...
Siva :
“
iya pak.. terimakasih
Konselor :
“
sekarang apa yang siva rasakan?
Siva :
“
saya sudah merasa lega pak karena saya
sudah mengambil keputusan...
Konselor :
“
berhubung sekarang sudah waktunya masuk
kelas. Maka konseling ini
bapak akhiri
sampai disini ya va..
Siva :
“
baik pak.. terimakasih bapak sudah
meluangkan waktunya..
Konselor :
“
iya sama-sama.. pertahankan prestasimu
ya va...
Siva :
“
siap pak.. !!! Assalamualaikum...
(bersalaman)
Konselor :
“
waalaikumsalam... (tersenyum)
o
Setelah pulang sekolah
siva menemui orang tuanya
untuk
meyakinkan tentang pilihannya..
Siva :
(tok..tok..) “ asssalamualaikum..
Ibu : “ walaikumsalam .. ganti
baju terus makan siang nak..
Siva :
“
baik bu... (mengganti bajunya)
Pak..bu.. saya ingin
yang saya akan bicarakan kepada ibu dan bapak ..
Bapak : “ tentang apa nak?
Siva :
“
gini pak buk tadi saya menjalani proses
konseling dengan konselor
sekolah.. beliau
menjelaskan kalau mata pelajaran MIPA mendapatkan nilai jelek tidak mempengarui
tentang kelulusan kelak di kelas tiga, karena ketentuan lulus tidak sepenuhnya
melalui UAN, tapi pihak sekolah yang mempunyai hak untuk meluluskan siswanya...
Ibu :
“
oo..begitu to nak.. lalu?
Siva :
“
ya begini bu... saya janji sama ibu dan
bapak, kalau saya tidak akan
meninggalkan
pelajaran tersebut dan tetap akan belajar untuk memperbaiki nilai saya.. tapi
saya juga tetap akan melanjutkan hobi saya.. mohon ijinkan ya pak bu...
Ibu :
“
ya sudah.. kalau memang keputusanmu
seperti itu.. ibu mengijinkan, asal
kamu bisa membuktikan
kalau kamu bisa merubah nilaimu itu menjadi lebih baik..
Bapak :
“
nah.. seperti itu lebih baik nak.. bapak
merasa lega dengan keputusanmu
itu.. jadi ibumu
juga tidak akan khawatir lagi dengan nilai-nilaimu...
Siva :
“
iya pak bu... terimakasih sudah
mengijinkan saya untuk tetap melukis...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar