Jumat, 28 Desember 2012

BAB III PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KOSELING



A.     Pengertian Bimbingan dan Konseling.
Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan diri,untuk, dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur , cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) pada individu (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada konselor, dan konselor menyiptakan suasana hubungan yang akrab dengan menerapkan prisip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa sehingga masalahnya itu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien terangsang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan kukuatannya sendiri. Proses koneling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan dan menggunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial organismik ada pada diri klien itu. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat
diharapkan dinamika hidup klien akan kembali berjalan dengan wajar mengarah kepada tujuan yang positif.
B.     Istilah Penyuluhan dan Konseling.
Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan , yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan penyuluhan”. Yang dimaksud dengan “penyuluhan” di sini adalah sesuatu yang sama seperti konseling.
Sejak tahun 1960-an istilah bimbingan penyuluhan seperti talah masayarakat , khusus dikalangan persekolahan. Namun sejak awal tahun 1970-an muncul pemakain  istilah “penyuluhan” yang sama sekali di luar pengertian konseling. Penggunaan istilah penyuluahan dalam arti “konseling” dan penyuluhan dalam arti “pembinaan masyarakat “ seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan  keberadaaannya masing-masing. Akibat yang lebih jauh ialah masayarakat akan menyamaratakan saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan untuk arti yang lain itu. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) di sekolah adalah sama seperti tugas penyuluh pertanian penyuluh kesehatan dan sebagainya.
Sejak tahun 1980-an , gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnya dari usah yang dimaksudkan itu.
Dalam penggunaan istilah “penyluhan atau konseling” , ada sejumlah orang yang berusaha mencari jalan tengah. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. Jalan tengah yang kedua ialah dengan membagi dau tingkat pelayanan bimbingan. Untuk sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan , dan untuk perguran tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling.
C.     Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling
Di negara-negara yanga bimbingan dan konselingnya telah maju , terutama Amerika Serikat , perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna terus berlangsung. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai oleh Frank Person, pengertian bimbinga bari mencangkup bimbingan jabatan.
Pada periode kedua gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Pada tahap ketiga pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Periode keempat gerakan beimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu.
Perkembangan yang lebih kanjut tentang rumusan bimbingan dan konselingmemperlihatkan gejala yang amat menarik. Belkin (1975) secara tegas menolak konsep , rumusan ataupun penjelasan yang mengecilkan arti istilah konseling.
Dengan demikian , profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari esok.
D.     Tujuan Bimbingan dan Konseling
Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu.
 Masalah- masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkut pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbada dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya.
E.     Asas-Asa Bimbingan dan Konseling
1.      Asas Kerahasiaan
Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain,  atau lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui oleh orang lain.
2.      Asas Kesukaelaan
Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan , dari pihak klien maupun dari pihak konselor.
3.      Asas Keterbukaan
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasan keterbukaan antara konselor maupun klien.
4.      Asas Keinian
Dalam hal ini diharapkan konselor dapat mengarahkan klien untuk memecahkan masalah yang dihadapinya sekarang.
5.      Asas Kemandirian
Salah satu tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha menghidupkan kemandirian di dalam diri klien.
6.      Asas Kegiatan
Dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling kadang-kadnag konselor memberikan beberapa tugas dan kegiatan kepada kliennya.
7.      Asas Kedinamisan
Keberhasilan usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku klienke arah yang lebih baik.
8.      Asas Keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepricadian klien.
9.      Asas Kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat dan lingkungannya.
10.  Asas Keahlian
Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para petugas harus mendapaykan pendidikan dan latihan yang memadai.
11.  Asas Alih Tangan
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang menangani masalah-masalah yang cukup pelik. Dalam hal in ikonselor perlu mengalihtangankan (referal) klien pada pihak lain (konselor) yang lebih ahli untuk menghadapi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien tersebut.
12.  Asas Tutwuri Hadayani
Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor dan klien.
F.      Kesalahpahaman dalam Bimbingan dan koneling

1.      Bimbingan dan koseling disamakan saja dengan ataua dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
2.      Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah.
3.      Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat.
4.      Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat Insendental.
5.      Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja.
6.      Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan atau “kurang normal”.
7.      Bimbingan dan koseling bekerja sendiri.
8.      Konselor harus aktif , sedangkan pihak lain pasif.
9.      Menganggap pekerjaan bimbingan dan koseling dapar dilakukan oleh siapa saja.
10.  Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja.
11.  Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.
12.  Menganggap hasil pekerjaaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat.
13.  Menyamaratakan cara pemecahan bagi semua klien.
14.  Memusatkan usah a bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumental bimbingan dan konseling ( misalnya; tes, inventori, angket , dan alat pengungkap lainnya.
15.  Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya mengatasi masalah-masalah yang ringan saja.






                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar