A. Pengertian
Bimbingan dan Konseling.
Bimbingan dan
konseling yang merupakan pelayanan diri,untuk, dan oleh manusia memiliki
pengertian-pengertian yang khas. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai
prosedur , cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan
masalah-masalah yang dihadapinya. Sedangkan konseling merupakan proses
pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh
seorang ahli (disebut konselor) pada individu (klien) yang bermuara pada
teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Dalam wawancara
konseling itu klien mengemukakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada
konselor, dan konselor menyiptakan suasana hubungan yang akrab dengan
menerapkan prisip-prinsip dan teknik-teknik wawancara konseling sedemikian rupa
sehingga masalahnya itu terjelajahi segenap seginya dan pribadi klien
terangsang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dengan menggunakan
kukuatannya sendiri. Proses koneling pada dasarnya adalah usaha menghidupkan
dan menggunakan secara penuh fungsi-fungsi yang minimal secara potensial
organismik ada pada diri klien itu. Jika fungsi ini berjalan dengan baik dapat
diharapkan dinamika hidup klien akan kembali berjalan dengan wajar mengarah
kepada tujuan yang positif.
B. Istilah
Penyuluhan dan Konseling.
Istilah konseling
dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama
ini menyertai kata bimbingan , yaitu kesatuan istilah “bimbingan dan
penyuluhan”. Yang dimaksud dengan “penyuluhan” di sini adalah sesuatu yang sama
seperti konseling.
Sejak tahun 1960-an
istilah bimbingan penyuluhan seperti talah masayarakat , khusus dikalangan
persekolahan. Namun sejak awal tahun 1970-an muncul pemakain istilah “penyuluhan” yang sama sekali di luar
pengertian konseling. Penggunaan istilah penyuluahan dalam arti “konseling” dan
penyuluhan dalam arti “pembinaan masyarakat “ seolah-olah berlomba dan saling
mempertahankan keberadaaannya
masing-masing. Akibat yang lebih jauh ialah masayarakat akan menyamaratakan
saja pengertian penyuluhan untuk konseling dan penyuluhan untuk arti yang lain
itu. Tidak perlu diherankan apabila masyarakat akan menganggap bahwa tugas guru
BP (Bimbingan dan Penyuluhan) di sekolah adalah sama seperti tugas penyuluh
pertanian penyuluh kesehatan dan sebagainya.
Sejak tahun 1980-an ,
gerakan bimbingan mulai digalakan dengan penggunaan istilah konseling. Para
pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan
yang sebenarnya dari usah yang dimaksudkan itu.
Dalam penggunaan
istilah “penyluhan atau konseling” , ada sejumlah orang yang berusaha mencari
jalan tengah. Dengan mencari istilah baru yang bersifat asli Indonesia. Jalan
tengah yang kedua ialah dengan membagi dau tingkat pelayanan bimbingan. Untuk
sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan , dan untuk
perguran tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling.
C. Perkembangan
Konsepsi Bimbingan dan Konseling
Di negara-negara
yanga bimbingan dan konselingnya telah maju , terutama Amerika Serikat ,
perkembangan gerakan tentang bimbingan dan konseling yang memberikan makna
terus berlangsung. Pada awal perkembangan gerakan bimbingan yang diprakarsai
oleh Frank Person, pengertian bimbinga bari mencangkup bimbingan jabatan.
Pada periode kedua
gerakan bimbingan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Pada tahap ketiga
pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Periode keempat
gerakan beimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu.
Perkembangan yang
lebih kanjut tentang rumusan bimbingan dan konselingmemperlihatkan gejala yang
amat menarik. Belkin (1975) secara tegas menolak konsep , rumusan ataupun
penjelasan yang mengecilkan arti istilah konseling.
Dengan demikian ,
profesi konseling memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi hari
esok.
D. Tujuan
Bimbingan dan Konseling
Adapun tujuan khusus
bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang
dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang
bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu.
Masalah- masalah individu bermacam ragam
jenis, intensitas, dan sangkut pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh
karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu
bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu
berbada dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling
untuk individu lainnya.
E. Asas-Asa
Bimbingan dan Konseling
1.
Asas
Kerahasiaan
Segala sesuatu yang
dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang
lain, atau lebih hal atau keterangan
yang tidak boleh atau tidak layak diketahui oleh orang lain.
2.
Asas
Kesukaelaan
Proses bimbingan dan
konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan , dari pihak klien maupun
dari pihak konselor.
3.
Asas
Keterbukaan
Dalam pelaksanaan
bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasan keterbukaan antara konselor
maupun klien.
4.
Asas
Keinian
Dalam hal ini diharapkan konselor dapat
mengarahkan klien untuk memecahkan masalah yang dihadapinya sekarang.
5.
Asas Kemandirian
Salah satu tujuan pemberian layanan
bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha menghidupkan kemandirian
di dalam diri klien.
6.
Asas Kegiatan
Dalam proses pelayanan bimbingan dan
konseling kadang-kadnag konselor memberikan beberapa tugas dan kegiatan kepada
kliennya.
7.
Asas Kedinamisan
Keberhasilan usaha pelayanan
bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah
laku klienke arah yang lebih baik.
8.
Asas Keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling
berusaha memadukan sebagai aspek kepricadian klien.
9.
Asas Kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling
yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di
dalam masyarakat dan lingkungannya.
10. Asas
Keahlian
Untuk menjamin keberhasilan usaha
bimbingan dan konseling, para petugas harus mendapaykan pendidikan dan latihan
yang memadai.
11. Asas
Alih Tangan
Bimbingan dan konseling merupakan
kegiatan profesional yang menangani masalah-masalah yang cukup pelik. Dalam hal
in ikonselor perlu mengalihtangankan (referal) klien pada pihak lain (konselor)
yang lebih ahli untuk menghadapi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien
tersebut.
12. Asas
Tutwuri Hadayani
Asas ini menunjukan pada suasana
umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor
dan klien.
F. Kesalahpahaman dalam Bimbingan dan
koneling
1.
Bimbingan dan koseling disamakan
saja dengan ataua dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
2.
Konselor di sekolah dianggap sebagai
polisi sekolah.
3.
Bimbingan dan konseling dianggap
semata-mata sebagai proses pemberian nasehat.
4.
Bimbingan dan konseling dibatasi
pada hanya menangani masalah yang bersifat Insendental.
5.
Bimbingan dan konseling dibatasi
hanya untuk klien-klien tertentu saja.
6.
Bimbingan dan konseling melayani
“orang sakit” dan atau “kurang normal”.
7.
Bimbingan dan koseling bekerja
sendiri.
8.
Konselor harus aktif , sedangkan
pihak lain pasif.
9.
Menganggap pekerjaan bimbingan dan
koseling dapar dilakukan oleh siapa saja.
10. Pelayanan
bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja.
11. Menyamakan
pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.
12. Menganggap
hasil pekerjaaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat.
13. Menyamaratakan
cara pemecahan bagi semua klien.
14. Memusatkan
usah a bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumental bimbingan dan
konseling ( misalnya; tes, inventori, angket , dan alat pengungkap lainnya.
15. Bimbingan
dan konseling dibatasi pada hanya mengatasi masalah-masalah yang ringan saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar