BAB
VI
ORIENTASI
DAN RUANG LINGKUP
KERJA
BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Orientasi
Bimbingan dan Konseling
Orientasi yang dimaksud disini
adalah “pusar perhatian” atau “titik berat pandangan”.
1.
Orientasi Perorangan
a.
Semua
kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling
diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi
sarana layanan.
b.
Pelayanan
bimbingan dan konseling meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk
mahami kebutuhan-kebutuhannya, motivasi-motivasinya , dan kemampuan-kemampuan
potensialnya, yang semuanya unik, serta untuk membantu individu agar dapat
menghargai kebutuhan, motivasi, dan potensinya itukearah pengembangannya yang optimal, dan pemanfaatan yang
sebesar-bersarnya bagi diri dan lingkungan.
c.
Setiap
klien harus ditrima sebagai individu dan harus ditangani secara individual
d.
Adalah
menjadi tanggung jawab konselor
untuk memahami minat, kemampuan, dan perasaan
klien untuk menyesuaikan program bimbingan
2.
Orientasi Perkemabangan
Orientasi
perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya
peranan perkembangan yang terjadi dan hendaknya diterjadikan para individu. Perkembangan
merupaka konsep inti dan terpadukan , serta menjadi tujuan dari segenap layanan
bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa, praktek bimbingan dan
konseling tidak lain adalah memeberikan kemudahan yang berlangsung perkembangan
yang berkelanjutan.
3.
Orientasi Permasalahan
Orientasi
permasalahan bermaksud mengarahkan perhatian konselor kepada kumungkinan adanya
masalah pada diri sasaran layanan, dan kalau ternyanta masalah itu memang ada ,
layanan bimbingan dan konseling berusaha mengentaskannya. Lebih jauh ,
orientasi permasalahan itu berusaha agar sarana layanan tidak mengalami
masalah.
B.
Ruang Lingkup Bimbingan dan
Koneling
1.
Pelayanan
Bimbingan dan Koseling di Sekolah
Sekolah
meruakan lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk menyelenggarakan
pendidikan bagi warga masyarakat.
a.
Keterkaitan
antar Bidang Pelayanan Bimbingan Konseling
dan Bidang-Bidang Lainya, meliputi:
1.
Bidang
kurikulum pengajaran
2.
Bidang
administrasi atau kepemimpinan
3.
Bidang
kesiswaan
b.
Tanggung
Jawab Konselor Sekolah
1.
Tanggung
jawab konselor kepada siswa
2.
Tanggung
jawab kepada orang tua
3.
Tanggung
jawab kepada sejawat
4.
Tanggung
jawab kepada sekolah dan masyarakat
5.
Tanggung
jawab kepada diri sendiri
6.
Tanggung
jawab kepada profesi
2. Pelayanan
Bimbingan dan Koseling di Luar Sekolah
a. Bimbingan
dan Konseling Keluarga
Keluarga merupakan satuan
persekutuan hidup yang paling mendasar dan merupakan pengkal kehidupan
masyarakat.
Bimbinga dan konseling keluarga,
menurut Palmo dkk., sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Dikatakan ,
pelayanan tersebut telah dimulai sejak pertengahan tahun 1940-an, dan sejak
tahun 1980-an pelayanan yang menangani permasalahan dalam keluarga itu tampak
berkembang dengan cepat.
Konselor sekolah hendaknya mampu
mensikronisasikan secara harmonis pemenuhan kebutuhan anak di sekolah dan di
rumah pada satu segi; serta fungsi sekolah dan fungsi keluarga terhadap anak pada
segi yang lain.
b. Bimbingan
dan konseling dalam Ligkungan Luas
Pelayanan bimbingan dan konseling
yang menjangkau daerah kerja yang lebih luas itu perlu diselenggarakan oleh
konselor yang bersifat multidimensional (Chiles & Eiken, 1983). Yaitu
memang mampu bekerja sama selain dengan guru , administrator, dan orang tua,
juga dengan berbagai komponen dan lembaga di masyarakat secara lebih luas.
Dalam lingkungan yang lebih luas
itu, konselor akan ada di berbagai lingkungan , selain di sekolah dan di dalam
keluarga, juga di tempat-tempat yang sekarang agaknya belum terjangkau oleh
pekerjaan profesional bimbingan dan konseling.
Modifikasi dan penyesuain
diperlukan berdasarkan kekhususan yang ada pada sarana layanan , lembaga tempat
bekerja , tujuan dan kondisi yang menyertai diperlukannya pelayanan bimbingan
dan konseling itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar